Translate

Powered By Blogger

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, April 26, 2020

Membaca Masa - Jadilah Manusia Beruntung!


Manusia sangat  terikat oleh waktu atau masa yang demikian misterius menurut saya. Kapan kita dilahirkan, berapa lama kita diberi kesempatan untuk hidup, dan kapan kita mati tampaknya tetap menjadi rahasia Ilahi yang tak bisa kita intip! Kepastian bahwa yang berjiwa itu akan mati tidak ada yang dapat menyangkalnya. Semua tercatat rapi di Lauh Mahfuz.  Apakah lantas kita menjadi pesimis menghadapi kehidupan? Bagaimana kita mengisi waktu yang diberikan kepada kita? Meskipun pengetahuan kita tentang masa sangatlah terbatas  pada pagi, siang, malam dan terbatas sekedar  angka  detik, menit, jam, serta terbatas pada hari, minggu, bulan, tahun. Yakinlah, semua telah ditetapkan. Sadar atau tidak sering kali kita menjalani melewati masa-masa kita seadanya, tanpa sadar dan begitu-begitu saja, taken for granted.  Padahal, jika kita mau me 'membaca' sedikit saja petunjuk-petunjuk yang dititahkanNya untuk kita, semuanya jelas. 

Satu hal yang menurut saya sangat penting dibahas adalah surat super pendek yang menjadi andalan siapa saja ketika sholat, yaitu Al Ashr. Saya selalu bertanya-tanya mengapa Allah mengatakan, "Demi masa" dalam ayat pertama surat Al-'Ashr. Mengapa masa? Mengapa waktu? Apakah 'waktu' itu demikian penting sehingga kita, manusia perlu dituntun dan diingatkan melalui surat ini ? Bagaimana tidak pendek, surat ini hanya terdiri tiga ayat, surat ke-103 Al quran, anak kecilpun tidak kesulitan untuk mengingatnya. (1)Wal' ashr, (2) innal insaana la fi khusr, (3) illal la-dziina aamanuu wa'amilatush shaalihati wa tawaa-shaubil haqqi wa tawwa-shau bish shabr.  (1) Demi masa, (2) sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, saling menasehati untuk kebenaran dan menasehati untuk kesabaran. 

Bagi saya, yang kalau menurut kategori Geertz, termasuk manusia Indonesia, eh... manusia Jawa abangan, yang jauh dari kasta santri yang setiap hari bergelut dengan ilmu agama dan apalagi priyayi (yang semoga dekat dengan santri), harus bersusah payah sendiri mencoba menggali makna kata sederhana 'Demi Masa' - Mengapa manusia dalam keadaan merugi? Kalau merugi kenapa manusia diciptakan? Untuk apa kita hidup? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada di kepala dan hati saya sampai sekarang. Hidup sepertinya tampak menyedihkan dan pesimistis. Tapi sebentar, kalimat itu belum selesai dan ayat terakhir itu sesungguhnya petunjuk yang sangat jelas bagi kita. Manusia dikatakan beruntung jika dia beriman, beramal shaleh dan saling mengingatkan pada kebenaran dan kesabaran.

Tampaknya gampang dan simpel diucapkan. Tapi sungguh bagi saya yang sekali lagi hanya manusia jelata, proletar, semuanya perlu perjuangan! Jujur saja, iman saya sering kali naik turun, keinginan dan tindakan beramal shaleh juga kadang timbul tenggelam, mengingatkan pada kebenaran dan kesabaran ini juga penuh dengan godaan setan. Saya sering kali tergelincir pada sikap-sikap dan ucapan yang sama sekali jauh dari makna sabar. Ya Allah... mohon maaf. Saya sering kali tak sabar dalam menjalankan peran  sebagai ibu, istri, saudara, anak,  tetangga,  pendidik, kolega, ataupun teman. Ya, saya perlu belajar banyak. Belajar bagaimana mengalahkan syaitan yang memang Kau ciptakan untuk menguji keimanan dan kesabaran yang dengan kurang ajar dan sangat cerdik menyusup ke dalam hati tanpa permisi dan tanpa kita sadari.

Maka, menghadapi masa pandemi seperti sekarang ini, saya merasa memiliki momentum untuk membaca masa dengan lebih jernih. Sejak tanggal 16 Maret 2020 sampai saat ini, 26 April 2020, saya memiliki waktu yang lebih tenang untuk mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Saya yakin Allah punya tujuan jelas untuk kebaikan manusia. Inilah waktunya secara pelan dan pasti kita kembali pada diri sendiri dan kembali padaNya. Tak ada kekuatan dan hegemoni negara manapun yang mampu mengalahkan mahlukNya yang terlihat saja tidak! Mahluk yang oleh manusia disebut Covid-19.  Allah sedang menunjukkan bahwa dunia dan manusia  begitu sangat rapuh! Tidak selayaknya kita jumawa menantang petunjuk-petunjukNya. Pandemi ini adalah satu cara Allah memperlambat dan mengerem kerakusan dan kerusakan yang diperbuat oleh manusia terhadap dirinya, lingkungan dan juga alam. Bukankah berbagai macam kerusakan di dunia ini disebabkan oleh manusia sendiri?

Yakinlah, hidup kita sedang ditata ulang oleh yang punya hidup! Mari kita terima dengan lapang dada dan kesabaran. Semoga dengan itu kita akan menjadi manusia yang bahagia dan 'penuh'. Demi masa, semoga kita menjadi manusia yang beruntung. Demi masa meskipun sangat sulit meniru perilaku tuntunan kita,  Nabi Muhammad SAW yang mampu membagi waktunya menjadi sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk tugas, dan sepertiga untuk keluarga, marilah kita mencoba beradaptasi dan terus memperbaiki diri.  Semoga Ramadhan yang berkawan Covid-19 ini  memberikan momentum yang tepat untuk kita  selalu mendekatkan diri kepadaNya dengan penuh kesadaran, kesederhanaan dan tanpa hingar bingar. Semoga sisa waktu yang diberikanNya untuk kita dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya. Aaamiin ya robbal alamiin. (YA)


Sunday, February 11, 2018

Kemerdekaan itu ...

Hari ini aku menyadari dan memahami bahwa kebebasan dan kemerdekaan memang harus diperjuangkan. Benar kata Eluard, dia harus dituliskan dimana-mana, di tempat-tempat yang begitu tampak ataupun yang tak tampak, materi atupun imateriil, dalam relung hati kita. Kemerdekaan harus digoreskan berulang-ulang di kepala kita di hati kita, agar kita berani melangkah.

Puisi "Liberté" karya Paul Eluard dinyanyikan Lles Enfoirés Liberté - Clip officiel des Enfoirés, 2016

Kebebasan itu adalah semangat untuk melakukan perubahan-perubahan, sekecil apapun dan memberikan inspirasi bagi orang lain. Kebebasan itu berani melakukan kesalahan karena dengan itu perbaikan bisa dilakukan. Kebebasan adalah berani mengatakan silahkan kritik hasil karyaku, karena itu akan membuatku dan karyaku lebih baik. Kebebasan itu berani menerima ketika orang lain tidak sependapat dengan kita, dan kita berani terus melangkah!

Kebebasan itu adalah kebenaran. Tetapi kita juga harus sadar bahwa kebenaran hakiki hanyalah milikNya. Kalau ada orang yang menganggap pemahamannya saja yang benar, dia telah menyalahi kodratnya sendiri. Kodratnya sebagai manusia yang memang ditakdirkan untuk melakukan kesalahan-kesalanan karena dari sana kita belajar bahwa kesempurnaan hanyalah milikNya semata. Aku berterima kasih untuk hari kemarin, hari ini dan hari esok. Semoga yang Maha Mengawali dan yang Maha Mengakhiri serta pemilik sekian nama terbaik dan terindah selalu menjadi penuntunku. Amin. 

Pendidikan Calon Guru Berwawasan Multikultural di Perguruan Tinggi Indonesia : Sebuah Gagasan

Secara etimologis, Douglas Harper (2001) menjelaskan  kata ‘guru’ berasal dari bahasa  Sansekerta gooroo,  pada tahun 1800 berarti "teacher, priest," dan kemudian digeneralisir maknanya menjadi  "mentor" sejak tahun 1940. Sedangkan kamus bahasa Inggris (Canada-Inggris) mencatat kata ‘guru’ pada tahun 1966 yang bermakna  "ahli dalam sesuatu’(www.etymonline.com/index.php). Jadi, seseorang dianggap sebagai seorang guru karena dia memiliki suatu pengetahuan  yang dapat membuatnya memiliki kearifan sehingga dapat  mengarahkan (menjadi mentor) dan memimpin bagi dirinya sendiri dan orang lain  tentunya menuju pada kebaikan.
Perkembangan teknologi dan informasi yang demikian pesat di era globalisasi seperti saat ini diperlukan suatu gerakan yang massif untuk memunculkan semangat kepemimpinan (leadership) bagi semua orang, termasuk guru, jika bangsa Indonesia ingin bertahan dan menjadi bangsa yang besar. Semua orang, termasuk guru harus dibuat berdaya (empowered) dengan segala perbedaan atau persamaan yang dimilikinya. Menjadikan guru yang berdaya agar mampu menjadi motor untuk keberdayaan orang lain (murid/peserta didik) bukanlah pekerjaan yang mudah. Sama sulitnya untuk mendorong dan menyadarkan orang agar mengambil peran kepemimpinan bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.  Ini merupakan tantangan bangsa Indonesia dan perguruan tinggi pendidik calon tenaga guru.
Tugas guru memang berat, tetapi bukan berarti tidak dapat dilaksanakan. Memilih menjadi guru berarti seseorang harus selalu mau untuk memperbaiki diri dan meng-updatepengetahuannya tanpa syarat. Jika demikian, kesadaran akanpentingnya pendidikan sepanjang hayat bagi guru dan calon guru menjadi kebutuhan yang amat mendesak dan sangat penting bagi bangsa dimanapun, termasuk Indonesia. Spring (2008: 339) menyebutkan bahwa salah satu diskursus  yang berperan penting dalam era globalisasi adalah pendidikan sepanjang hayat/lifelong learning (LLL), yang menurut Borg&Mayo, menjadi topik diskusi yang mendunia sejak UNESCO mempublikasikan laporannya, yaitu tahun 1970an. Laporan tersebut menyebutkan bahwa pendidikan sepanjang hayat merupakan bagian pertumbuhan budaya secara individu (Faure et al., via Joel, 2008: 339). Komisi Masyarakat Eropa, mendefinisikan pendidikan sepanjang hayat sebagai “semua kegiatan pembelajaran, yang dilakukan berdasarkan tujuan untuk meningkatan pengetahuan, kemamuan dan kompetensi.” (Commision of the European Communities melalui Joel, 2008: 339). Sayangnya, program pendidikan sepanjang hayat ini gemanya tidak terlalu terdengar di Indonesia. Kebijakan tentang pendidikan sepanjang hayat atau Lifelong Learning (LLL) tidak terlalu jelas di Indonesia. Padahal pendidikan sepanjang hayat dapat dijadikan ‘semangat’ untuk memberdayakan semua orang, termasuk guru dan calon guru di Indonesia.
Sebagai salah satu negara yang multikultural, Indonesia mempunyai potensi untuk maju, berkembang dan mencapai cita-cita untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, jika kita tetap setia, terus mencoba menggali, memahami dan kemudian bertindak sesuai dengan nilai-nilai  yang terkandung dalam falsafah bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ (berbeda-beda tetapi tetap satu) yang dicengkeram oleh burung Garuda tidak hanya menjadi hiasan dinding belaka, tetapi semangat itu harus dapat dijiwai masyarakat Indonesia secara mendalam hingga mendarah daging, menjadi arahan setiap individu dan bangsa Indonesia dalam bertindak. Prinsipnya adalah meskipun bangsa Indonesia terdiri dari masyarakat yang multikultural namun karena komitmen bersama maka akan tetap terintegrasi dalam negara kesatuan Republik Indonesia.
Internalisasi nilai-nilai luhur bangsa yang tercermin dalam Pancasila dan semboyan bangsa ini, tidak dapat dilakukan dengan menghapalkanmaupun taken-for-granted (pokoknya begitu yang diajarkan dari nenek moyang dan harus diterima titik).  Hal itu mengingat sejarah gelap dan panjang pemberlakukan Pancasila sebagai asas tunggal demi melanggengkan status quo pada masa pemerintahan Orde Baru, sehingga menyebabkan citra Pancasila tercoreng di mata masyarakat. Untuk itu, diperlukan pemimpin-pemimpin  yang berjiwa kepemimpinan untukmemulai dan mendorong gerakan massa yang kritis (critical mass)untuk mengambil peran kepemimpinan melalui  diskusi-diskusi kritis, kajian-kajian, untuk meredefinisi nilai-nilai Pancasila demi perubahan ke arah perbaikan. Jika masing-masing individu sebagai warga negara dapat terlibat dalam massa kritis sehinggajumlahnya mencapai 2/3 dari keseluruhan warga negara di Indonesia, maka perubahan-perubahan, perbaikan-perbaikan dapat kita lakukan agar identitas dan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia tidak lagi melenceng dari nilai-nilai Pancasila.  Diibaratkan sebagai pohon yang akar-akarnya telah mencengkeram dalam dan kuat ke dalam bumi maka kita sebagai negara bangsa akandapat bertahan kokoh di tengah derasnya gelombang globalisasi.
Pendidik (guru-dosen) merupakan salah satu aset nasional bangsa Indonesia yang posisinya sangat strategis untuk menjawab tantangan perubahan jaman. Pendidikan multikultural merupakan kebutuhan bangsa Indonesia sebagai salah satu negara yang plural di dunia. Pendidikan multikultural, adalah pendidikan yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai, keyakinan, heterogenitas, pluralitas dan keragaman, apapun aspeknya dalam masyarakat. Pendidikan yang mampu mengakomodir sekian ribu perbedaan dalam sebuah wadah yang harmonis, toleran, dan saling menghargai. Inilah yang diharapkan menjadi salah satu pilar kedamaian, kesejahteraan, kebahagian, dan keharmonisan kehidupan masyarakat Indonesia.Jelas disini bahwa peran guru-dosen dalam pendidikan multikultur di Indonesia menjadi sangat krusial dan penting. Paparan berikut mencoba merefleksi langkah-langkah yang dapat diambil untuk memperbaiki praktek-praktek pembelajaran di perguruan tinggi untuk mempersiapkan calon guru atau guru yang berwawasan multikultural. 
Pendidikan multikultural di Indonesia tentu saja berbeda dengan pendidikan multikultural di Amerika atau Kanada, pendidikan multikultural di Indonesia merupakan suatu refleksi atas kesadaran diri atas realitas masyarakat yang majemuk dan pendidikan multikultural semacam ini lebih mengarahkan pada pengembangan kesadaran, kebersamaan dalam konteks perbedaan budaya di masyarakat (Zamroni, 2007:269-70). Untuk itu, perlu kiranya gagasan-gagasan tentang pendidikan multikultural yang cocok dengan bangsa Indonesia. Tulisan ini tentu saja merupakan salah satu upaya penulis untuk turut memberikan kontribusi berkembangnya pendidikan multikultural di Indonesia, khususnya untuk pendidikan guru atau calon guru di perguruan tinggi. 

Rancangan Pendidikan Guru Berwawasan Multikultural

       Sekolah (termasuk juga perguruan tinggi) merupakan institusi sosial yang strategis sebagai pemersatu negara berbangsa yang pluralistik seperti Indonesia. Seperti telah disebut di atas, bahwa diperlukan komitmen tinggi dan kepemimpinan dari pemerintahdan juga penentu kebijakan di tingkat sekolah / perguruan tinggi untuk mengambil kebijakan-kebijakan dan bila perlu mengevaluasi kebijakan-kebijakan sehingga kebijakan tersebut bertumpu pada konsep multikultural. Kebijakan pendidikan multikultural harus ‘disuarakan’ dan ‘dipopulerkan’ melalui berbagai macam kanal (media massa, berbagai macam kajian, penelitian, diskusi, sarasehan, rembuk secara nasional) agar masyarakat mengerti, peduli dan sadar pentingnya pendidikan multikultural. Tentu saja penelitian-penelitian, kajian-kajian kritis itu dapat ‘dibumikan’ dan disampaikan dengan bahasa rakyat agar mudah dimengerti dan dipahami. 
Banyaknya perkelahian antar kelompok dan begitu mudahnya mahasiswa terseret pada perkelahian dan tawuran (seperti sering kita saksikan di Makasar) merupakan bukti bahwa pendidikan multikultural perlu dijadikan ‘santapan’ bagi masyarakat pada umumnya menggantikan sajian ‘isu-isu’ selebritis, sinetron-sinetronyang penuh dengan kekerasan di ruang publik masyarakat (televisi) Indonesia. Henry A. Giroux dalam Doing Cultural Studies: Youth and the Challenge of Pedagogy mengingatkan kita bahwa budaya popular di era keterbukaan informasi dan teknologi, secara politis dan pedagogis, merupakan wilayah kajian yang penting dalam pendidikan (Giroux, 1994 : 281).
Asumsi-asumsi yang mendasari tulisan ini didasarkan pada teori kritis tentang pendidikanyang muaranya pada pemberdayaan (empowerment) sebagai jalan menuju tujuan pendidikan (secara umum maupun pendidikan multikultural pada khususnya), yang berdasarkan nilai-nilai dalam Pancasila. Sastrapratedja (2001: 13-14) menyebutkan bahwa Pancasila merupakan suatu rumusan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Oleh karena itu seringkali dikatakan bahwa Pancasila bersifat humanistik dan universalistik. Humanistik, karena memuat nilai-nilai kemanusiaan yang bertumpu pada nilai hormat terhadap martabat manusia; universalistik, karena nilai-nilai itu bersifat mendasar sehingga dapat berlaku bagi setiap orang. Nilai-nilai tersebut adalah (1) hormat terhadap keyakinan religius setiap orang; (2) hormat terhadap martabat manusia sebagai pribadi/persona, yaitu sebagai subjek yang tak pernah boleh direduksi menjadi objek; (3) kesatuan sebagai bangsa yang mengatasi segmentasi-segmentasi sempit; (4) demokrasi atas dasar kedaulatan di tangan rakyat; (5) keadilan sosial yang mencakup kesamaan derajat setiap orang (equality) dan pemerataan (equity).Notonagoro melihat Pancasila sebagai kesatuan organis (majemuk tunggal) nilai, yang terdiri atas nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Kelima nilai tersebut merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, bahkan saling mengkualifikasi satu nilai dengan yang lain. Artinya, manakala berbicara tentang persatuan Indonesia, misalnya, maka konsep ini tidak dapat dilepaskan dari konsep ketuhanan, kemanusiaan, kerakyatan dan keadilan. Setiap berbicara tentang satu sila, maka akan selalu terkait dengan keempat sila lainnya (Kuswanjono, 2006: 86). Jadi, dalam pembahasan tulisan ini tidak akan dipisah-pisahkan antara sila yang satu dengan sila yang lain tetapi kesemuanya itu menjadi landasan berpikir dan pijakan dalam mengungkapkan argumentasi.
Selain itu, Sastrapratedja (2001: 11-12)  juga mengungkapkan bahwa arah pendidikan yang memberdayakan diartikan sebagai: (1) daya untuk berbuat (power-to); (2) kekuatan bersama (power-with); dan (3) kekuatan dari dalam (power-within). Pendidikan yang memberdayakan adalah pendidikan yang dapat memberikan kekuatan pada peserta didik untuk kreatif sehingga mampu membuat seseorang berbuat sesuatu, memutuskan sesuau dan memecahkan masalah. Pendidikan juga merupakan usaha untuk membantu membangun kekuatan bersama, yaitu agar peserta didik membangun solidaritas atas dasar komitmen  pada tujuan dan pengertian yang sama untuk memecahkan permaslahan yang dihadapi guna menciptakan kesejahteraan bersama. Pendidikan bertujuan untuk membangun kekuatan spiritual yang ada dalam diri peserta didik sehingga dapat membuat manusia lebih manusiawi karena di situ dibangun harga diri manusia dan penghargaan terhadap martabat manusia dan nilai-nilai yang mengalir dari martabat itu. Pemberdayaan ini memungkinkan (1) kemampuan untuk menghadapi perubahan nilai dan pluralism, (2) kemampuan untuk memilih berbagai macam alternatif, (3) kemampuan peserta didik untuk beradaptasi dengan perubahan yang demikian cepat.
Perguruan tinggi pendidik calon guru dan guru merupakan lembaga yang diharapkan dapat menjadikan semua civitas akademika untuk selalu dapat berpikir kritis, menjadi mediator budaya, mampu memberikan bantuan atau advokasi terhadap siswa, serta menjadi agen perubahan yang mempunyai komitmen untuk mencapai pendidikan multikultur yang merata, adil, berkualitas. 
Karena kontribusinya terhadap institusi sosial, maka pendidik  beserta institusinya/sekolah atau perguruan tinggi perlu memperjelas nilai-nilai, asumsi-asumsi serta landasan pedagogi yang diberikan kepada muridnya atau mahasiswa yang dituangkan melalui visi dan misi perguruan tinggi dan disosialisasikan secara intensif kepada seluruh civitas akademika. Visi dan misi suatu lembaga perlu dikomunikasikan untuk dijadikan pijakan setiap kebijakan dan individu yang berada di lembaga tersebut. Untuk itu, visi dan misi harus dapat dioperasionalkan  secara jelas dan dijadikan ‘ruh’ bagi setiap kegiatan pendidikan di dalam kelas ataupun di luar kelas dan tidak hanya menjadi pajangan di pintu masuk / gerbang perguruan tinggi.
Ada beberapa langkah yang dapat digunakan untuk menghasilkan lulusan calon guru yang berwawasan multikultur di Indonesia. Semboyan ‘bhineka’ dan ‘tunggal ika’ perlu secara teoritis dan praktis di bawa ke ruang-ruang kelas. Dosen harus dapat menjadi seorang pemikir kritis sehingga dapat mengembangkan diri (kognifif maupun afeksinya). Dengan selalu berpikir kritis, seorang guru sekaligus akan menjadi seorang yang terus belajar sepanjang hayatnya sehingga dapat menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dan selalu dapat mengevaluasi diri (sikap, tindakan) dan mengevaluasi nilai-nilai atau asumsi-asumsinya yang mungkin saja bias. Guru atau dosen yang demikian juga akan dapat melihat kebutuhan-kebutuhan peserta didiknya sehingga dapat mempersiapkan materi-materi yang menantang dan memungkinkan terjadinya dialog-dialog, diskusi-diskusi di ruang kelas secara terbuka dan tulus sehingga masing-masing individu di dalam kelas tersebut merasa nyaman dengan perbedaan-perbedaan yang dimiliki, tanpa adanya tekanan dan prejudice tertentu.
Pendidikan harus dapat menjadi ruang pembebasan sebagaimana diungkapkan oleh Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed. Pendidikan didasarkan pada keyakinan bahwa manusia mempunyai kapasitas (secara fitrah) untuk mengubah nasibnya. Untuk itu tugas utama pendidikan adalah untuk mengantarkan peserta didik menjadi subjek dalam mencapai tujuannya masing-masing. Asumsi-asumsi yang mendasari adalah (1) perlunya ditumbuhkan keadaran kritis peserta didik terhadap struktur sosial yang selama ini telah membelenggu dan menindas, (2) kesadaran manusia selalu berproses dipengaruhi oleh lingkungan. Pendidikan yang demikian haruslah dicapai dengan proses pembelajaran yang memposisikan guru dan siswa sama-sama sebagai subjek yang harus terlibat dalam mengkritisi dan juga memproduksi pengetahuan, (3) pendidikan demikian dipahami sebagai pendidikan yang membebaskan dari sistem hegemoni dan dominasi kultural yang mempertahankan dan mereproduksi status quo, (4) pendidikan tidak hanya dibatasi pada ruang kelas, tetapi harus kontekstual terkait dengan dunia disekitarnya (Freire, 2008). Dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang seperti itu adalah pendidikan yang dapat memberdayakan semua orang untuk selalu dan terus aktif dalam membangun pengetahuan. Hal itu dimaksudkan agar, setelah menyelesaikan pendidikannya,  masing-masing calon guru akan juga selalu belajar secara kritis dan mampu menciptakan lingkungan pembelajaran yang juga memperdayakan murid-muridnya. Jika lifelong learning telah terinternalisasi dalam masing-masing guru,  maka upaya untuk memobilisasi murid-murid agar berdaya bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan oleh guru.
Selain itu, guru (di dalam kelas maupun di luar kelas) harus dapat bertindak sebagai mediator bagi keberagaman masyarakat. Sebagai mediator, maka guru mempunyai peran yang efektif untuk menjembatani terjadinya dialog-dialog keberagaman budaya dalam masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia. Keterlibatan guru dalam kegiatan-kegiatan di masyarakatnya akan mampu memberikan pengaruh positif terhadap pendidikan multikultural. Dengan memahami masyarakatnya, seorang guru akan dapat mengintegrasikan berbagai materi yang harus disampaikan kepada muridnya yang disesuaikan dengan konteksnya, dengan berbagai metode dan strategi yang memang cocok dengan kondisi masyarakat. Pemahaman guru terhadap perbedaan yang mungkin saja terjadi antara nilai-nilai sekolah dengan nilai-nilai yang dibawa oleh peserta didik bagaimanapun sangat penting bagi guru. Sehingga guru kemudian dapat menjelaskan perilaku-perilaku atau sikap-sikap yang diharapkan oleh institusi dan guru yang belum dicapai oleh siswanya.
Guru juga harus dapat berperan sebagai advokat bagi siswa-siswanya. Untuk itu, perlu kiranya guru mengenal secara personal para siswanya agar guru dapat memahami latar belakang dan nilai-nilai yang telah dipelajari siswa dalam keluarga dan masyarakatnya dan dapat memberikan bantuan serta saran-saran agar siswa dapat mengoptimalkan kemampuannya dengan modal yang dimilikinya. Guru yang demikian akan lebih demokratis dalam memperlakukan siswanya, memberikan kesempatan kepada siswanya untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya secara jujur. Berbagai permasalahan dapat diselesaikan dalam diskusi secara seimbang.
Sebagai agen perubahan, guru diharapkan selalu bekerja keras untuk memberdayakan dirinya sendiri dan orang lain dalam kondisi yang bagaimanapun. Guru diharapkan dapat terlibat dalam proses-proses perubahan menuju perbaikan yang dicita-citakan bersama. Sebagai agen perubahan, maka seorang guru tidak akan mudah puas dengan apa yang telah dicapainya. Ia akan terus aktif dan kreatif untuk mencari segala kemungkinan  demi kemajuan bersama. Peran guru sebagai agen perubahan ini merupakan peran yang sangat penting karena perubahan cepat di berbagai bidang membutuhkan peran aktif dalam memperkokoh sistem pendidikan kita dan mencari berbagai alernatif yang memungkinkan untuk perbaikan diri, orang lain dan bangsa.
Dalam pembelajaran di dalam kelas, guru bagaimanapun akan selalu menjadi model bagi murid-muridnya.  Untuk itu, kesuksesan implementasi pendidikan multikultural juga sangat tergantung pada bagaimana guru bersikap, bertindak, dan berperilaku di dalam kelas dan di luar kelas. Modeling bagaimanapun merupakan strategi yang baik dalam pendidikan multikultural. Seorang guru yang multikultural akan tercermin dari setiap ucapan, sikap dan perilakunya yang dapat ditangkap dan dijadikan contoh bagi setiap muridnya. Seorang guru yang multikultural akan mengetahui nama murid-muridnya dan memperlakukan siwanya dengan positif. Setiap siswa dianggap mampu untuk tumbuh dan berkembang mencapai fitrahnya masing-masing. Modeling merupakan strategi yang efektif dalam pembelajaran. Bagaimana seorang guru/dosen memahami budaya kelas dan menciptakan suasana yang aman, tenang, kondusif, nyaman, saling menghormati martabat manusia, demokratis, adil merupakan bagian penting dari contoh tersebut.
Menciptakan rasa kebersamaan di dalam kelas juga dapat menumbuhkan rasa saling menghormati di antara siswa. Melalui berbagai kegiatan diskusi dengan duduk melingkar (face-to-face), siswa dapat saling bercerita dan mendengarkan tentang nilai-nilai yang dibawanya dari rumah, harapan-harapannya agar tumbuh rasa saling memahami dan menghargai serta mengurangi rasa saling curiga (prejudice). Melalui diskusi-diskusi seperti ini diharapkan seorang calon guru / guru dapat mengevaluasi asumsi-asumsinya, pandangan-pandangannya yang mungkin saja bias. Menurut Paulo Freire (2008), inti pembelajaran terletak pada ‘problem-posing education,’ karena melalu problem solving (pemecahan masalah) para siswa diajak untuk mengevaluasi dan otomatis juga mengevaluasi nilai-nilai pribadi dan nilai-nilai budaya yang telah diajarinya untuk kemudian memikirkan suatu tindakan yang dilakukan dengan mereview juga nilai-nilai orang lain untuk mencari suatu pemecahan. Selain itu, dengan diskusi, seorang siswa akan terbiasa mengungkapkan pikirannya, pendapatnya dan membiasakan siswa untuk turut aktif memberikan kontribusi terciptanya suasanya demokratis yang saling menghargai pendapat orang lain, menghargai perbedaan.
Dalam memperoleh pengetahuan,  siswa / mahasiswa harus dibiasakan untuk  memperoleh pengetahuan secara aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan saja layaknya sistem bank.  Materi-materi yang kontekstual dan berdasarkan projek biasanya dapat membantu siswa dalam menggali pengetahuan secara mendalam. Seorang guru yang aktif mencari pengetahuan tidak akan menerima begitu saja status quo yang melenakan, tetapi ia akan mencari alternatif-alternatif lain atau mencoba mencari jalan lain, bereksperimen untuk memecahkan berbagai tantangan yang dihadapinya, seberapa beratpun tantangan itu. 


Penutup

Guru adalah seseorang yang memiliki suatu pengetahuan  yang dapat membuatnya memiliki kearifan sehingga dapat  mengarahkan (menjadi mentor) dan memimpin bagi dirinya sendiri dan juga orang lain  dalam menuju pada kebaikan. Peran guru sangatlah penting di dalam proses pembelajaran (di dalam atau di luar kelas).   Asumsi-asumsi yang mendasari tentang bagaimana pendidikan guru yang berwawasan multikultural di Indonesia  didasarkan pada teori kritis tentang pendidikan yang muaranya pada pemberdayaan (empowerment) sebagai jalan menuju tujuan pendidikan (secara umum maupun pendidikan multikultural pada khususnya), yang berdasarkan nilai-nilai dalam Pancasila.

Pemberdayaan ini memungkinkan guru untuk memiliki (1) kemampuan untuk menghadapi perubahan nilai dan pluralism, (2) kemampuan untuk memilih berbagai macam alternatif, (3) kemampuan peserta didik untuk beradaptasi dengan perubahan yang demikian cepat. Sedangkan pendidikan yang didasarkan atas nilai-nilai Pancasila paling sedikit memiliki lima ciri, yaitu (1) hormat terhadap martabat manusia, (2) manusiawi, (3) demokratis, (4)  adil dan (5) berwawasan kebangsaan. Ciri-ciri ini tentu saja harus dimiliki oleh setiap guru. 

Referensi


Freire, Paulo. (2008). Pendidikan Kaum Tertindas. Terjemahan dari Judul Asli: Pedagogy of the Oppressed by Paulo Freire, 1972. Jakarta: LP3ES.

Giroux, Henry A. (1994). Doing Cultural Studies: Youth and the Chalenge of Pedagogy.  Harvard Educational Review, 64, 281

Harper, Douglas. (2001). Online Etimology Dictionaire. http://www.etymonline.com/.

Kuswanjono, Arqom. (2006). Pluralisme Pancasila. Jurnal Filsafat « Wisdom » , 16, 1, 77-93.

Sastrapratedja, M. S.J. (2001). Pendidikan sebagai Humanisasi. Yogyakarta: Penerbitan Universitas Sanata Dharma.

Spring, Joel. (2008). Research on Globalization and Education. Review of Educational Research. 78, 2.

Zamroni. (2007). Pendidikan dan Demokrasi dalam Trasisi: Prakondisi menuju era Globalisasi. Jakarta : PSAP Muhammadiah.


Tuesday, December 26, 2017

Kajian Singkat "Pedagogy of the Oppressed" (Pendidikan untuk Kaum Tertindas)-Paulo Freire

     Paulo Freire merupakan tokoh pendidikan Amerika Latin yang melihat permasalahan pendidikan sebagai masalah struktural (sosio-ekonomis, politik dan kebudayaan). Dalam “Pendidikan untuk Kaum Tertindas” Freire menegaskan keberpihakannya terhadap pendidikan untuk kaum-kaum yang tertindas (the oppressed). Ketertidasan itu bisa dari rezim otoriter, struktural-sosial yang deskriminatif, karena suku, ras, jender, agama, warna kulit, dan lain sebagainya. Permasalahan pokoknya adalah humanisasi. 
    Humanisasi merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan, karena sejarah menunjukkan bahwa humanisasi maupun dehumanisasi merupakan alternatif yang nyata. Untuk pembebasan demi humanisasi itu, maka perjuangan bagi pembebasan yang dilaksanakan oleh kaum tertindas harus merupakan perjuangan untuk membebaskan penindas juga agar tidak terjadi balas dendam. Ada beberapa ciri-ciri kaum tertindas yaitu (1) mereka mengalami keterasingan diri/alienasi dari lingkungannya dan tidak menjadi subjek yang otonom, (2) mengalami depresi sehingga merasa bodoh dan tidak mengetahui apapun, padahal tidak demikian. 
Dengan demikian, tugas utama pendidikan adalah untuk mengantarkan peserta didik menjadi subjek melalui (1) kesadaran kritis peserta didik dan (2) mentransformasikan struktur sosial yang menjadikan penindasan itu berlangsung. Untuk itu emansipasi atau pemberdayaan harus melibatkan kesadaran akan kedua hal tersebut. Proses pembelajaran yang demikian mengandaikan relasi guru-siswa sebagai subjek-subjek bukan subjek-objek. Guru bukan lagi hanya sebagai tenaga pengajar atau fasilitator saja tetapi juga harus terlibat (bersama-sama peserta didik) dalam mengkritisi dan memproduksi suatu ilmu pengetahuan. Guru juga harus berperan sebagai pekerja kultural yang sadar bahwa pendidikan dapat dipandang sebagai kekuatan kultural untuk pembebasan dan sekaligus untuk kekuatan hegemoni atau kekuasaan, serta sebagai meria untuk mereproduksi sistem sosial status quo. Untuk itu, belajar menurut Freire merupakan proses yang tidak boleh dibatasi pada pembelajaran di kelas saja, tetapi harus lebih dari itu. Pembelajaran tidak berdasarkan teksbook saja tetapi juga harus kontekstual dan terkait dengan dunia nyata. Secara singkat, sistem pendidikan menurut Freire adalah 1) perlunya ditumbuhkan keadaran kritis peserta didik terhadap struktur sosial yang selama ini telah membelenggu dan menindas, (2) kesadaran manusia selalu berproses dipengaruhi oleh lingkungan. Pendidikan yang demikian haruslah dicapai dengan proses pembelajaran yang memposisikan guru dan siswa sama-sama sebagai subjek yang harus terlibat dalam mengkritisi dan juga memproduksi pengetahuan, (3) pendidikan demikian dipahami sebagai pendidikan yang membebaskan dari sistem hegemoni dan dominasi kultural yang mempertahankan dan mereproduksi status quo, (4) pendidikan tidak hanya dibatasi pada ruang kelas, tetapi harus kontekstual terkait dengan dunia disekitarnya. 
      Bagaimana dengan di Indonesia? Undang-Undang Dasar 1945 sebetulnya telah menjamin bahwa tujuan pendidikan di Indonesia adalah untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Dalam konteks ini, pendidikan memiliki dimensi sosial kebangsaan karena yang menjadi tujuan pendidikan bukan kecerdasan individu tetapi bangsa. Konteks pendidikan dalam konstitusi tersebut juga dapat dikatakan sebagai konsep untuk memerdekakan manusia Indonesia dari berbagai macam kungkungan dan penindasan. Telahkan bangsa ini menjamin kecerdasan bangsanya melalui pendidikan? Sepertinya belum. Jawaban itu didasarkan pada alasan sebagai berikut (1) kebijakan tentang pendidikan di Indonesia belum memihak pada golongan yang lemah, minoritas. Padahal pendidikan yang adil bukanlah pendidikan yang netral, tetapi pendidikan itu harus memihak pada kaum lemah. Ini artinya sebetulnya bangsa ini telah berkhianat pada nilai “keadilan” dalam Pancasila. Selain itu, (2) contoh atau modeling yang dipertontonkan oleh para pemimpin kita sangat jauh dari kata ‘mendidik’. Maraknya korupsi dan kejahatan publik di Indonesia yang diekspos secara besar-besaran melalui berbagai macam media, benar-benar mendekati sempurna. Masyarakat yang tidak terbiasa dengan pemikiran kritis dalam melihat pemberitaan, akan menganggapnya suatu kebenaran yang patut ditiru. Jadi, pendidikan bagaimanapun juga akan dapat menyelamatkan bangsa ini, jika kita kembali pada nilai-nilai dasar yang tercermin dari Pancasila. 

Referensi

Buku bisa didownload melalui : 
Freire, Paulo (2005). Pedagogy of the Oppressed.  The Continuum International Publishing Group Inc. Diterjemahkan oleh Myra Bergman Ramos  file:///C:/Users/TRI02/Downloads/FreirePedagogyoftheOppressed.pdf

Noel, Jana. (2000). Notable Selections in Multicultural Education. USA: McGraw-Hill.

Freire, Paulo. (2008). Freire, Paulo. (2008). Pendidikan Kaum Tertindas. Terjemahan dari Judul Asli: Pedagogy of the Oppressed by Paulo Freire, 1972. Jakarta: LP3ES.

Saturday, December 23, 2017

Telaah terhadap Artikel Joel Spring tentang "Penelitian tentang Globalisasi dan Pendidikan"

    Secara umum, artikel ini merupakan hasil kajian komparatif berbagai macam literatur tentang pendidikan yang terjadi sampai saat ini. Tulisan ini juga memberikan gambaran  tentang globalisasi yang awalnya terjadi di bidang ekonomi terutama produksi, konsumsi dan investasi yang kemudian dengan cepat menyebar ke negara bangsa di penjuru dunia sehingga mempengaruhi secara politis maupun budaya termasuk pendidikan dalam kebijakan maupun secara praktis. Sayangnya, tidak ada satu kasuspun yang diangkat dalam artikel ini terkait dengan pendidikan di Asia Tenggara seperti Indonesia atau Malaysia.
     Penelitian tentang globalisasi melibatkan kajian tentang diskursus-diskursus yang berkembang di dunia, proses-prosesnya serta institusi-institusi yang melibatkan praktek dan kebijakan pendidikan lokal. Empat perspektif terkait dengan globalisasi dan pendidikan yang dikaji dalam tulisan ini adalah (1) budaya yang berkembang di dunia, (2) sistem yang berlaku di dunia, (3) postkolonial dan postkulturalis.
     Diskursus-diskursus yang berkembang saat ini adalah (1) pengetahuan ekonomi dan teknologi, (2) pembelajaran sepanjang hayat, (3) migrasi global atau sirkulasi kecerdasan, dan (4) neoliberation. Institusi-institusi dunia yang terlibat dalam diskursus internasional adalah World Bank, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), World Trate Organization (WTO), United Nation (UN), dan UNESCO. Namun, tidak ada pembahasan tentang sejauh mana diskursus-diskursus tersebut mempengaruhi pendidikan negara-negara yang berkembang separti di Indonesia.
    Selain itu, tes-tes berstandard internasional seperti Trends in Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for Student Assessment (PISA), dan pembelajaran dalam bahasa Inggris dalam dunia bisnis memberikan sumbangan dalam keseragaman kurikulum nasional di belahan dunia manapun. Kritik yang dialamatkan tentang kecenderungan/tren global yang tengah terjadi adalah memberikan dukungan terhadap pendidikan-pendidikan alternatif yang akan melestarikan budaya-budaya dan bahasa-bahasa lokal, serta memastikan bahwa praktis-praktis pendidikan terjadi secara progresif untuk melindungi yang miskin dari yang kaya dan melindungi alam / lingkungan dan hak setiap manusia.  Namun, tidak ada kajian tentang kendala-kendala yang dihadapi oleh negara-negara berkembang dalam mengkonseptualisasi pendidikan yang global tetapi lokal (GLOCAL).
     Keseragaman kurikulum, instruksi, tes mungkin merupakan hasil dari trend-trend yang terjadi secara luas saat ini dan yang didiskusikan dalam artikel ini. Diskursus pendidikan global tentang pengetahuan ekonomi dan teknologi, pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning), dan sumber daya manusia dalam pendidikan mempengaruhi kebijakan-kebijakan nasional yang diambil suatu negara bangsa. Penelitian menunjukkan bahwa organisasi-organisasi internasional (termasuk LSM), dan khususnya Bank Dunia, OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) juga memberikan bantuan dalam perencanaan pendidikan terutama terkait dengan pengetahuan ekonomi dan sumber daya manusia dalam pendidikan. Keseragaman kurikulum global dipengaruhi oleh perbandingan skor-skor internasional yang standar misalnya TIMSS dan PISA. Diskursus tentang Neoliberalisme dan GATS mendorong privatisasi secara global pendidikan di dunia, terutama pendidikan pada jenjang perguruan tinggi, meningkatnya jasa-jasa informasi dan buku-buku yang ditawarkan dengan jejaring internasional, perusahaan multinasional. Migrasi secara internasional diistilahkan penulis sebagai brain circulation atau sirkulasi orang pintar di dunia, memberikan kontribusi pada berkembangnya keseragaman prakek-praktek pendidikan yang terjadi secara global dan tekanan lokal yang memastika bahwa pendidikan akan membantu lulusannya untuk berpartisipasi dalam ekonomi global. Perkembangan bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa perdagangan global menyebabkan bahasa Inggris mendapat perhatian khusus dalam kurikulum nasional, termasuk di Indonesia.
      Ada beberapa kritikan yang dialamatkan terkait dengan keseragaman pendidikan. (1) Para ahli teori tentang sistem dunia berpendapat bahwa keseragaman itu merupakan proses untuk melegitimasi kegiatan-kegiatan negara-negara kaya atas negara-negara miskin. Dengan menggunakan analisis kritis postkolonial menyebutkan bahwa tren yang berkembang (globalisasi pendidikan) menunjukkan hegemoni kelompok elit di dunia. Sepakat dengan kaum kulturalis, analisis postkolonial dimaksudkan untuk memberikan dukungan kepada bentuk-bentuk alternatif tentang pendidikan yang disesuaikan dengan pengetahuan ekonomi dan sumber daya manusia, misalnya dengan teori progresif dan metode Freirian. (2) Penelitian budaya oleh para kulturalis menyimpulkan bahwa masyarakat lokal perlu mengadopsi praktek-praktek pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan budaya lokal sehingga yang terjadi bukan lagi keseragaman tetapi mengembangkan praktek hybrid karena merupakan kombinasi budaya lokal dan global. Apakah kebudyaaan hybrid itu yang terbaik bagi Indonesia? Mungkin ya dan mungkin tidak. Bagaimanapun pendidikan yang terbaik bagi Indonesia adalah pendidikan yang berlandaskan pada fondasi atau dasar filososfi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Hal itu mengingat bahwa bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk, multibudaya, pluralism. Keberagaman lokal itu tetap harus dibungkus sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Referensi
Spring, Joel. (2008). Research on Globalization and Education. Review of Educational Research. 78, 2.






Thursday, December 21, 2017

Sederhana itu Menentramkan

Hidup sederhana itu mudah diucapkan namun tak banyak yang bisa menjalaninya. Aku bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang yang bersahaja penuh semangat dan suka cita menjalani kehidupan ini. Meskipun berat tampak jelas dari legam kulit dan guratan raut wajah mereka, namun mereka terus saja bekerja dan bergerak. Tak mau dikalahkan oleh waktu.  Kecintaan mereka terhadap hidup tergambar jelas di depan mata. Itulah pelajaran pertama yang harus kupetik. Ikhlas menjalani kehidupan ini sebagai apapun peran yang harus dilakoni.

Lihatlah Pak Toni dari Kecamatan Salahutu di Maluku. Dia dengan penuh semangat menarik perahu kecil nan sederhana berwarna biru, tak peduli hujan gerimis mengguyur tubuhnya yang kecil dan  berselimut plastik tipis. Dingin pasti, tetapi dia akan kembali lagi esok hari untuk melaut, menantang angin dan riak gelombang di laut untuk bekerja, mencari ikan. Dia memilih untuk tidak menyerah dan terus berusaha, ya setiap hari!




Demikian juga Pak Tinus yang dengan tekun merapikan jaring sederhananya di perahun tak beratap dan kecil sungguh. Tangannya kuat terlatih  menggulung dan mengulur tali dan jaring yang sangat sederhana itu. Tak peduli hujan membasahi badannya, kepalanya cukup bertopi plastik kresek yang dia dapat dari laut, dia terus saja telaten bekerja. Seberapapun ikan yang ditangkapnya hari itu, esoknya dia juga akan kembali ke laut untuk menggembleng diri demi menjalani kehidupan yang dititahkanNya. Meskipun sendirian, mereka akan tetap kembali untuk bercengkrama dengan angin, matahari, hujan, ombak, burung dan ikan di lautan.  Harapan itulah temannya!





Seperti juga para pekerja pelabuhan dan penjaja makanan di Sunda Kelapa, Jakarta. Seberapa berat beban yang harus mereka pikul hari itu, mereka akan selalu bekerja kembali. Meskipun terik matahari menyengat tubuh, toh tak menghalangi perjuangan mereka. Matahari adalah kawan, angin adalah teman.. Hidup memang harus diperjuangkan dan menyerah bukanlah pilihan. Itu adalah pelajaran berikutnya yang harus kucamkan.

Hidup secara realistis dan 'menginjak tanah' adalah pelajaran berikutnya yang harus harus kuterima. Bagi para pekerja seperti mereka, fisik adalah kebutuhan. Jadi, doa pertama yang terucap adalah mohon kesehatan dan keselamatan dari yang Kuasa, agar esok hari dapat kembali melakoni perannya masing-masing.

Bagiku, mereka-mereka adalah Sisipus yang nyata, bukan hanya hidup dalam mitologi Yunani atau dalam bukunya   Camus dalam "Myth de Sisyphus" (Edisi terjemahan dalam Bahasa Inggris dapat dibaca lebih lanjut di  atau https://postarchive.files.wordpress.com/2015/03/myth-of-sisyphus-and-other-essays-the-albert-camus.pdf sementara versi Bahasa Prancis bisa dibaca http://www.fadedpage.com/showbook.php?pid=20160912  atau sebagai pengenalan silakan buka di  https://en.wikipedia.org/wiki/The_Myth_of_Sisyphus ).

Dari para pekerja keras seperti mereka inilah kita diajari bagaimana menjadi manusia. Seberapapun beban hidup yang harus mereka jalani, mereka selalu berusaha dapat melakoninya dengan bahagia, karena itulah ketentraman. Kita memang harus membayangkan mereka bahagia, seperti halnya Sisipus.

Belajar hidup bersahaja memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Barangkali kita akan sendirian, biarlah. Ketika banyak orang  memilih untuk bergonta-ganti tas dengan berbagai macam warna dan merk yang sesuai dengan baju-baju mereka yang trendi, sementara kita memilih menggunakan tas  dan baju yang 'itu-itu' saja tanpa peduli warna sepatu dan baju apalagi mengikuti tren! Ya, sederhana itu menjadi diri sendiri dan menikmati apa yang kita miliki.

Mungkin itu yang disebut bijaksana. Toh apapun peran kita, seberapapun tingginya jabatan  dan pendidikan yang kita miliki serta seberapapun banyak harta yang kita miliki, itu semua adalah ujian. Lolos atau tidaknya kita melewatinya, akan tergantung pada bagaimana kita melihat kehidupan ini. Mencintai kehidupan dengan sederhanapun akan sangat indah kalau kita menikmatinya. Memilih untuk tidak menuruti nafsu dan menjinakkan keinginan akan membantu menentramkan jiwa. Semoga kita dimampukan!

Wednesday, December 20, 2017

Motherhood in "Coco : Disney Pixar's Movie"

What do you remember about your childhood? Maybe the smell of a special dish from your mother's kettle or frying pan? Maybe the way your mother hug you, call you with funny name? Or even the way she yell at you when you didn't listen to her ? What ever it was, it is important !

When your mother or your beloved grand mother or aunt who act as a mother for you is still present, please enjoy the moment to be with her. Even though sometimes, it is weird and strange because she treats you as a kids ! Every mother in the world will always thinks that their children never grow up!

If your mom was passed away, I am sorry about that but please remember her because she need it.  Just like one of Coco's soundtrack (see the link : https://www.youtube.com/watch?v=3iDxU9eNQ_0 ). 



Maybe your remembrance will save them and bring them to heaven.  That's one of the message in "Coco - a Disney Pixar movie" directed by Lee Unkrich (see the teaser https://www.youtube.com/watch?v=r8NB2aaiM14 ).  Personally, this movie makes my tears dropped completely.  It was so touching and shake the bottom of my heart. Well, yes, Pixar is always my favorite! https://www.pixar.com/#home-coco

For me, through "Coco" - Pixar Studio's reminds us that family is always matter, what ever you do and you did or you will do, family will always beside you. You can't keep the hatred because it just make you sick as well as it is  suffering everyone around you. Probably, if we have a chance as Miguel's (the boy who has wonderful voice in this movie) to cross the border between living's world and the death's world, we would understand that making the deaths  alive in our memories and calling them in our praying are meaningful for them as well as for us.

I think, through "Coco", Lee Unkrich, the director, is successful in bringing and presenting Mexican's culture not only as a characteristic but also rich and  soulful which is presented through language, songs and dances.  Through this movie, we also  understand that the family bounding for Mexican is also very strong,  just like Indonesian. We always attach to our extended family!

If you are going to watch this movie with young children (age below 6 years old), you probably have to explain why so many skeletons in this movie are suddenly released and scattered but then merge and relive as our body, human live (https://www.youtube.com/watch?v=yg8116aeD7E).


 The children probably don't understand or afraid. The animation is from the word 'anime' means 'bring to live', so through a series of works, the animators and director, can  make anything live and act like human! Anything can happen, but only on the screen.  :)

If you want to watch it on cinema, please check the playing schedule in your town here  http://www.21cineplex.com. I hope you don't miss it, I am sure it will bring you travel back to the moment where it was so wonderful for you and for your beloved mom. Please enjoy!



Happy Mother Day to every Mom in the world! 💖